Macam – Macam Gangguan Tidur Yang Harus Anda Ketahui

Share Button

10 jenis gangguan tidur

Tidur seharusnya menjadi waktu untuk relaksasi. Sebagian besar dari kita memiliki siklus yang bisa diprediksi saat tidur, yaitu, fase tidur non-REM (rapid-eye-movement) kemudian diikuti fase penuh mimpi, yakni fase REM. Ketika batas antar fase itu kabur dan mengganggu waktu tidur terganggu, ada banyak hal yang dalam hidup yang ikut terganggu. Berikut ini 10 hal yang bisa mengganggu tidur:

1. Mimpi Buruk. Orang dengan gangguan mimpi buruk sering terbangun dengan kenangan mimpi yang mengerikan. Efek dari mimpi buruk yang berulang dan parah umumnya akan mengganggu kehidupan nyata. Sering mengalami mimpi buruk pun sering membuat penderitanya takut tidur.

Untuk kasus-kasus umum, mimpi buruk bisa dienyahkan dengan menghilangkan/menyelesaikan penyebab utama stres, atau dengan memberi kesempatan diri untuk bersantai, juga mencukupi kebutuhan durasi tidur.

Sementara untuk yang mengalami masalah mimpi buruk yang parah, disarankan untuk melakukan konseling dengan terapis atau menemui dokter untuk mendapatkan obat penenang.

2. Tidur Berjalan (Sleepwalking). Setidaknya ada 15 persen orang dewasa yang mengalami masalah tidur berjalan. Angkanya lebih tinggi pada anak-anak. Tidak ada yang tahu alasan mengalami tidur berjalan, tetapi stres dan susah tidur diperkirakan menjadi faktor utama. Genetika juga bisa menjadi faktor penyebab. Saudara sedarah orang yang bermasalah dengan tidur berjalan 10 kali lebih mungkin untuk melakukan hal yang sama dibanding populasi umum.

Orang yang tidur berjalan tidak membahayakan, namun tidur sambil berjalan sendiri bisa berbahaya. Terjatuh dan tersengat listrik adalah dua bahaya terbesar bagi orang dengan kondisi tidur berjalan.

3. Sindrom Kepala Meledak (Exploding Head Syndrome). Gangguan ini bukan benar-benar terjadi ledakan pada kepala, melainkan kejutan suara keras yang hanya didengar oleh penderitanya selama awal tidur nyenyak.

Suara yang didengar bisa bervariasi, mulai dari simbal jatuh hingga suara ledakan seperti bom. Untuk orang yang mengalami masalah ini, ledakan seakan berasal tepat di samping kepala atau di dalam tengkorak kepalanya. Tidak ada rasa sakit atau bahaya yang dialami penderitanya. Dokter tidak tahu apa yang menyebabkan sindrom ini, namun tidak ada indikasi terkait penyakit serius.

4. Halusinasi Mengantuk. Halusinasi mengantuk atau halusinasi hypnagogic terjadi selama transisi dari terjaga tidur (begitu kepala menyenitu kepala menyentuh bantal). Halusinasi ini terjadi selama proses bangun. Orang-orang melaporkan mendengar suara-suara, merasakan sensasi hantu, dan orang-orang melihat atau benda aneh di kamar mereka. Serangga atau binatang merayap di dinding adalah visi umum, kata Neil Kline, seorang dokter tidur dan wakil dari ASA.

Tidur yang berhubungan dengan halusinasi paling umum terjadi pada orang dengan narkolepsi. Jadi penglihatan fantasi yang sesekali ini tidak perlu dikhawatirkan. Apabila halusinasi disertai dengan kantuk di siang hari dan hilangnya kendali otot saat gembira atau terkejut.

5. Teror Malam (Night Terror). Berteriak, meronta-ronta, panik, dan mondar-mandir umumnya dilaporkan orang dengan kondisi night terror. Tidak seperti mimpi buruk yang timbul di fase REM, teror malam terjadi selama tidur non REM, biasanya di awal fase tidur.

Paling umum terjadi pada anak-anak. Orang yang mengalami teror malam tiba-tiba duduk tegak, mata terbuka, meskipun mereka tidak benar-benar melihat. Orang tersebut sering berteriak atau menjerit, dan tidak dapat dibangunkan atau ditenangkan.

Dalam beberapa kasus, teror malam bercampur dengan tidur sambil berjalan. Orangtua melaporkan anak berkeliaran rumah dalam keadaan panik. Setelah 10 atau 15 menit, orang tersebut biasanya mengendap kembali tidur, menurut National Institutes of Health. Kebanyakan orang dengan masalah ini tidak ingat apa pun yang mereka lakukan ketika teror malam terjadi di keesokan harinya.

Penyebab teror malam adalah sebuah misteri, tetapi demam, tidur tidak teratur, dan stres dapat menjadi pemicu. Untungnya, menurut ASA, teror biasanya memudar setelah usia bertambah.

6. Ketindihan (Sleep Paralysis). Selama fase REM, aktivitas bermimpi akan meningkat dan otot-otot berdiam seakan lumpuh. Kelumpuhan sementara ini sebenarnya mengamankan diri supaya tidak bertindak seperti aktivitas yang ada di mimpi. Namun, kelumpuhan bisa tetap terjadi setelah terbangun. Ini yang sering dikira dengan “ketindihan”.

Seringnya, masalah Sleep Paralysis ini terjadi bersamaan dengan halusinasi (di nomor 7). Dalam satu penelitian yang diterbitkan 1999 dalam Journal of Sleep Research, 75 persen dari mahasiswa yang telah mengalami kelumpuhan tidur secara simultan melaporkan halusinasi. Bentuk “favorit” halusinasinya adalah merasakan kehadiran sesuatu yang jahat, bersama dengan perasaan tercekik. Paduan sleep paralysis dan halusinasi itu kemudian menjadi banyak cerita rakyat di seluruh dunia.

7. Perilaku Gangguan REM. Kadangkala, otak tidak benar-benar memberikan sinyal kepada tubuh untuk tetap diam selama fase REM. Ketika itu terjadi, orang bertindak seperti di dalam mimpi mereka. Berteriak, melakukan pukulan dan tendangan, bahkan keluar dari tempat tidur dan berjalan di sekitar adalah contoh-contoh gangguan REM.

Gangguan perilaku REM paling sering terjadi pada orang lanjut usia dan kemungkinan merupakan gejala penyakit Parkinson (gangguan neurologis degeneratif). Dokter biasanya mengobati gangguan ini dengan obat-obat yang mengurangi tidur REM dan merelaksasi tubuh.

8. Gangguan Makan Nokturnal. Orang dengan gangguan makan yang terkait dengan gangguan tidur terus makan di malam hari. Keesokan paginya bisa ingat sedikit atau tidak ingat sama sekali tentang kejadian itu. Gangguan ini bisa membahayakan diri sendiri dengan memotong bahan masakan, menyalakan kompor, atau menelan bahan baku mentah. Kelainan ini masih belum dipahami secara menyeluruh, tetapi, terjadinya selama masa tidur non REM.

9. Seksomnia. Seks ketika tidur atau seksomnia kali pertama dijelaskan dalam studi kasus kepada tujuh orang di tahun 1996. Seksomnia dapat berkisar dari hanya mengganggu (dengan erangan seksual yang keras), berbahaya (masturbasi yang berbahaya), sampai kriminal (kekerasan seksual atau pemerkosaan). Dalam setidaknya lima kasus kontroversial, pria telah dibebaskan dari penyerangan seksual dengan menyatakan bahwa mereka tertidur selama serangan itu.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada tahun 2007 oleh jurnal Psychiatry Social dan Psychiatric Epidemiology menunjukkan, kurang tidur, stres, alkohol, obat-obatan, dan kontak fisik dengan pasangan tidur cukup berperan dalam gangguan ini.

10. Insomnia. Ketidakmampuan untuk tidur atau tetap tertidur dapat menyebabkan mudah marah dan kurang konsentrasi pada siang hari. Dalam jangka panjang, kurang tidur dapat benar-benar berbahaya. Kurang tidur telah dikaitkan dengan obesitas, tekanan darah tinggi, dan serangan jantung. Menurut Highway Traffic Safety Administration Nasional, mengemudi mengantuk menyebabkan kecelakaan mobil lebih dari 100.000 dan 1.550 kematian setiap tahun.

Di lihat 700 kali

1 Komentar

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*