Lima Lagu Dewa Yang Terdengar Janggal

Share Button

Dewa 19

Tanpa disadari, lagu-lagu yang kita dengarkan secara tak sepenuhnya sempurna. Terlebih soal penggunaan tata dan logika bahasa. Sebagai grup musik yang terhitung sebagai legenda, Dewa memiliki segudang lagu hit. Ahmad Dhani sebagai penulis mayoritas lagu-lagu Dewa secara konsisten mampu menghasilkan hit di tiap album Dewa, sejak dekade 1990-an, hingga 2000-an. Namun, ada beberapa lagu Dewa yang terdengar janggal. Hal ini cukup penting mengingat tata bahasa yang benar dapat memberi pemahaman yang baik bagi pendengarnya. Sekaligus memberi contoh bahwa sebagai musisi, implementasi kecintaan terhadap Bahasa Indonesia bisa diwujudkan dengan menulis lirik yang sesuai dengan tata bahasa yang baik dan benar.

Berikut lima lagu dari Dewa yang terdengar janggal:

  1. Imagi Cinta, dari album Format Masa Depan (1994)

    Imagi bukanlah kata yang baku. Jika maksud dari “imagi” adalah sesuatu yang dibayangkan dalam benak, akan lebih tepat menggunakan “imaji,” sesuai Kamus Besar Bahasa Indonesia.
    Tetapi, jika “imagi” yang dimaksud adalah gambar atau rupa seperti dalam bahasa Inggris disebut “image,” akan lebih tepat menggunakan kata “citra” sebagai terjemahan yang telah disepakati dan sesuai dengan bahasa yang baku.

  2. Petuah Bijak, dari album Pandawa Lima (1997)

    “Mungkin ini petuah bijak, yang kau rasakan sebagai klise, lelahkan kedua pasang telingamu,” bunyi lirik Petuah Bijak. Setiap manusia pada umumnya dikaruniai sepasang telinga. Kedua pasang telinga mengindikasikan jumlah empat daun telinga. Logika bahasa yang tepat seharusnya sepasang telinga, atau kedua daun telinga.

  3. Roman Picisan, dari album Bintang Lima (2000)

    “Tatap matamu bagai busur panah, yang kau lepaskan ke jantung hatiku,” bunyi lirik Roman Picisan. Secara logika, jika tali tuil pada busur yang sudah dikaitkan ke anak panah dilepaskan, yang melesat adalah anak panah. Sehingga jika maksud lagu Roman Picisan itu tatapan mata yang tajam, lebih tepat jika menggunakan kiasan anak panah, ketimbang busur panah.

  4. Angin, dari album Cintailah Cinta (2002)

    “Angin tancapkanlah busur panah cintaku, tancapkanlah cepat tepat di jantung hatinya,” bunyi lirik Angin. Masih soal pemahaman busur panah dan anak panah. Dalam lirik itu, kejanggalan terdapat pada penggunaan istilah “busur panah.” Busur panah adalah alat yang digunakan untuk melesatkan anak panah. Sehingga yang seharusnya menancap di “hati” secara logika lebih tepat anak panah, bukan busur panah.

  5. Mistikus Cinta, dari album Cintailah Cinta (2002)

    Kejanggalan pada lagu ini terdapat pada penggunaan istilah Mistikus. Kata “mistikus” tidak terdapat dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Penggunaan kata “mistikus” dalam percakapan sehari-hari pun jarang. Referensi terdekat dari kata “mistikus” adalah “mistik.” Mungkin Ahmad Dhani sebagai penulis lagu bermaksud menyebut sesuatu yang bersifat “mistik” dengan sebutan “mistikus.”

Di lihat 335 kali

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*